Merayap pelan di Jalan Pemuda,Surabaya saat jam bubar Kantor merupakan pelatihan observasi
yang baik. Seolah mengamati dunia dalam mikroskop, kecepatan lambat memungkinkan kita
menangkap dengan detail jalanan yang berlubang, trotoar yang hancur, angkot yang mengulur
waktu untuk menelan penumpang sebanyak-banyaknya, pedagang kaki lima yang bersesak
memepet jalan aspal, dan manusia... lautan manusia.
Di balik kerumunan atap rumah, menyembul matahari yang membola sempurna. Oranye. Mata saya
seketika melengak ke atas, sejenak meninggalkan pemandangan Jalan Katamso yang menguji
kesabaran mental. Langit berwarna-warni khas senj
Banyak hal yang membuat kita jatuh cinta pada hida. Campur aduk antara kelabu, biru, ungu,
merah jambu, jingga. Seketika saya bersua dengan sebuah rasa tak bernama. Kemurnian, barangkali
deskripsi paling mendekati.up. Berkali-kali.
Dalam keadaan mabuk as Tak akan terukur dan tertakar
akal mengapa kita jutaan kali mati dan lahir, seolah tak berakhir. Sesuatu dalam mortalitas ini
mengundang kita untuk kembali, dan kembali lagi. Sesuatu dalam dunia materi, jasad, partikel,
mengundang jiwa kita menjemput tubuh untuk ditumpangi dan kembali mengalami.
*** mara, kita akan merasa lahir untuk seseorang yang kita cinta. Dalam
keadaan terinspirasi, kita merasa lahir untuk berkarya dan mencipta. Seorang ibu, dalam puncak
kebahagiaannya, akan merasa lahir untuk melahirkan buah hatinya. Untuk beragam alasan, kita
jatuh hati pada hidup dan kehidupan. Cinta yang barangkali juga datang dan pergi sesuai dengan
situasi yang terus berganti.
Langit senja di jalanan macet ini menggerakkan saya untuk menelusuri cinta yang nyaris tak
terganti, yang meski hidup sedang busuk dan menyebalkan, saya tahu kemurnian ini selalu
menyertai jiwa saya. Untuk hal-hal inilah jiwa saya tergoda untuk kembali, dan kembali. Atau,
minimal, hal-hal ini menjadi jaminan penghiburan jiwa saya selagi menjalani berbagai peran dan
ragam drama yang harus dimainkan dalam hidup. Dan inilah daftar tersebut, dalam susunan acak:
Langit senja. Tertawa. Minum air putih. Suara hujan. Bergandengan tangan.
Dalam kelima hal itu, ada kemurnian yang selalu menjemput jiwa saya untuk sejenak bersuaka.
Riak dan gelombang boleh turun dan pasang, pasangan saya boleh berganti, sehat-sakit-susah-
senang boleh bergilir ambil posisi, tapi ada keindahan yang bergeming saat saya masih diizinkan
untuk menatap langit senja, untuk tertawa lepas, untuk mengalirkan air putih segar lewat
tenggorokan, untuk mendengar derai hujan yang beradu dengan bumi, untuk merasakan hangat kulit
manusia lain lewat genggaman. Sederhana memang, sama halnya dengan semua penelusuran pelik
yang biasanya berakhir pada penjelasan sederhana.
Sungguh saya tergoda berkata, kelima hal itu adalah kekasih saya sesungguhnya. Pacar-pacar gelap
tapi tetap, yang dicumbu jiwa saya saat menjalin kasih dengan dunia materi dan sensasi ini. Bahkan
kemacetan di Jalan Pemuda yang sempit tak mampu membendung cinta ini. ©
No comments:
Post a Comment