Tuesday, 15 November 2011

sucks story..(i have no idea)


Di depan toko buku ‘Anugerah” suasana meriak kemelut, ada copet tertangkap basah. Tukang-tukang becak memimpin orang banyak menghajarnya ramai-ramai. Si copet jatuh bangun minta ampun meski hati geli menertawakan kebodohannya sendiri: hari naas, ia keliru jambret dompet kosong milik kopral sedang preman kosong milik Kopral setengah preman. Hari naas selalu berarti tinju-tinju, tendangan sepatu dan cacian tak menyenangkan baginya. Tapi itu rutin–. Polisi-polisi Pucang tak acuh melihat tontonan sehari-hari: orang mengeroyok orang sebagai kesenangan. Mendadak sesosok baju hijau muncul, menyelak di tengah. Si copet diseret keluar dibawa entah ke mana.
Meski sedikit terhibur dengan kejadian barusan Tapi bukan itu kejadian yang seharus nya aku dapat kan disini, Sosok lelaki tua itu yang aku ingin aku temui.Sesosok yang lelaki yang di dahi nya tergurat jelas tanda dari hasil kejadian beberapa tahun silam.

“Silahkan mas” pramusaji itu menghidangkan kopi beserta camilannya dengan pandangan yang sedikit aneh terhadapku. “thanks” jawabku setelah sesaat dia berpaling badan meninggalkan mejaku, Tidak tau apa dia masih mendengar atau tidak. Ini adalah cangkir kopi ke tiga, bibirku beradu dengan bibir cangkir dengan mata terus menatap keluar seakan tak ingin sekedip pun aku melewatkan apa yang ada di depanku.

Dengan mata mendelik seperti penari bali,tenggorokan yang seakan mengering padahal tersedak,bibir yang belepotan dan bercak coklat pada kemeja biru kotak-kotakku,cepat-cepat aku berlari sambil menarik tissue dengan mata masih tetap menatap pada laki-laki tua dengan tanda di dahi nya,dengan baju kaos putih yang sedikit kebesaran dan banyak bolong-bolong nya,seperti habis di tembak para serdadu belanda.Seolah tak ingin kehilangan jejak nya lagi.

Kupandangi pundak yang sedikit condong ke depan, jika di lihat dari samping, tubuh itu persis membentuk huruf “C”.Dengan lembut ku tepuk punggung nya dan dengan gerakan patah-patah seperti jarum detik jam akhirnya dia menoleh, “maaf, apakah anda bapak Rahardjo?”tapi hanya tatapan bingung yang aku dapatkan,tatapan seperti mengingat-ingat sesuatu,dan masih terdiam.”Bapak Rahardjo Gondokusumo?”kali ini pertanyaanku terdengar lebih tegas dan seperti ingin cepat-cepat mendapat jawaban “iya”,biar aku cepat menyelesaikan ini,menyelesaikan semua teka-teki yang ada dalam hidupku,menyelesaikan kumpulan puzzle yang telah lama ku gantung karena masih mencari potongan yang hilang ,potongan yang mungkin aku dapatkan hari ini.

*****

Lama kami terdiam memandangi cangkir kopi kami masing-masing dan tanganku masih terus mengaduk-aduk kopi yang sepertinya tidak ada gunanya lagi.Hanya suara dentingan sendok yang menyentuh dinding gelas, suara parang yang membanting tatakan,suara orang yang keluar masuk kedai dengan pintu yang di banting-banting,pintu itu memang sudah tua.
“Apa yang membawamu kesini?” “malaikat mana yang berhasil menghancurkan hati karang mu?” Dengan nada yang gemas garang seakan menghakimi ,dengan tangan yang masih di kepal,dengan tatapan yang seakan sanggup menelanku hidup-hidup.Sekarang giliranku yang terkunci,seakan-akan semua benda dalam radiusku siap-siap menghadang ku jika suatu saat aku lari.

Suara dering handpone ku seakan menjawab pertanyaan pak har,tiba-tiba tangan yang sudah keriput itu menghardik dan melemparkan ke lantai ubin.”benda apa itu?”apakah benda itu pantas menjawab semua pertanyaan saya barusan?”semua pengunjung kedai menatap kami, tapi yang paling aku takutkan adalah tatapan mata merah menyala,tatapan pak Har.Kami kembali terdiam cukup lama.


Suara dentang jam berbunyi,Sepuluh jam sudah aku berada di kedai ini sejak jam 6 pagi tadi.”Karjo..!!!tolong ambilkan nasi ke warung sebelah”suara pak har mengejutkanku diiringi kedatangan seorang pegawai kedai kopi,
“iya pak?”jawab karjo
“tolong ambilkan nasi ke warung sebelah,satu saja” “karjooo..!!dua menit kamu harus sudah sampai disini dengan nasinya”teriak pak Har.
“iya paaaaaak”jawab karjo sembari berlari.
“Siapa sebenarnya pak Har?”sepertinya orang-orang disini begitu hormat,segan dengan dia dan sampai-sampai berani melemparkan handphone ku.”Gumamku.
“ini pak, hampir saja habis..tapi kata bu Kus apa sih yang tidak buat pak Har?hehehe”Seloroh Karjo sambil menyerahkan bungkusan nasi.
“Sudah-sudah..cepat ambilkan piring sendoknya..Cepat!!”
Aku masih asik dengan Handphone ku yang sudah tak berbentuk layaknya handphone,banyak data-data penting,nomor penting disana,tapi kupikir lebih penting bertemu dengan pak Har.
“Makan ini,kamu belum makan dari pagi tadi kan?”menyerahkan bungkusan nasi diatas piring.
“Tapi saya belum lapar pak”
“Orang kota seperti kamu apa tahan lapar?” “wong biasanya makannya tepat waktu” “ayo cepat makan”
“Kamu bawa baju ganti?, habis ini kamu ikut bapak,kamu tidur dirumah”
Tiba-tiba aku tersedak “tapi pak,saya sudah izin tidak masuk kantor hari ini”masa saya harus menginap disini” “atau apa disini ada angkutan ke kantor saya besok pagi?”
“Sudah,lanjutkan makanmu..tidak sopan makan sambil bicara”
Sikap pak Har makin membingungkan.


******.
Seperti apa kelanjutan cerita ini aku juga ga tau..i'm tired...i'm GIVE UP....!!!!!!

jiwa


Merayap pelan di Jalan Pemuda,Surabaya saat jam bubar Kantor merupakan pelatihan observasi
yang baik. Seolah mengamati dunia dalam mikroskop, kecepatan lambat memungkinkan kita
menangkap dengan detail jalanan yang berlubang, trotoar yang hancur, angkot yang mengulur
waktu untuk menelan penumpang sebanyak-banyaknya, pedagang kaki lima yang bersesak
memepet jalan aspal, dan manusia... lautan manusia.
Di balik kerumunan atap rumah, menyembul matahari yang membola sempurna. Oranye. Mata saya
seketika melengak ke atas, sejenak meninggalkan pemandangan Jalan Katamso yang menguji
kesabaran mental. Langit berwarna-warni khas senj
Banyak hal yang membuat kita jatuh cinta pada hida. Campur aduk antara kelabu, biru, ungu,
merah jambu, jingga. Seketika saya bersua dengan sebuah rasa tak bernama. Kemurnian, barangkali
deskripsi paling mendekati.up. Berkali-kali.
Dalam keadaan mabuk as Tak akan terukur dan tertakar
akal mengapa kita jutaan kali mati dan lahir, seolah tak berakhir. Sesuatu dalam mortalitas ini
mengundang kita untuk kembali, dan kembali lagi. Sesuatu dalam dunia materi, jasad, partikel,
mengundang jiwa kita menjemput tubuh untuk ditumpangi dan kembali mengalami.
*** mara, kita akan merasa lahir untuk seseorang yang kita cinta. Dalam
keadaan terinspirasi, kita merasa lahir untuk berkarya dan mencipta. Seorang ibu, dalam puncak
kebahagiaannya, akan merasa lahir untuk melahirkan buah hatinya. Untuk beragam alasan, kita
jatuh hati pada hidup dan kehidupan. Cinta yang barangkali juga datang dan pergi sesuai dengan
situasi yang terus berganti.
Langit senja di jalanan macet ini menggerakkan saya untuk menelusuri cinta yang nyaris tak
terganti, yang meski hidup sedang busuk dan menyebalkan, saya tahu kemurnian ini selalu
menyertai jiwa saya. Untuk hal-hal inilah jiwa saya tergoda untuk kembali, dan kembali. Atau,
minimal, hal-hal ini menjadi jaminan penghiburan jiwa saya selagi menjalani berbagai peran dan
ragam drama yang harus dimainkan dalam hidup. Dan inilah daftar tersebut, dalam susunan acak:
Langit senja. Tertawa. Minum air putih. Suara hujan. Bergandengan tangan.
Dalam kelima hal itu, ada kemurnian yang selalu menjemput jiwa saya untuk sejenak bersuaka.
Riak dan gelombang boleh turun dan pasang, pasangan saya boleh berganti, sehat-sakit-susah-
senang boleh bergilir ambil posisi, tapi ada keindahan yang bergeming saat saya masih diizinkan
untuk menatap langit senja, untuk tertawa lepas, untuk mengalirkan air putih segar lewat
tenggorokan, untuk mendengar derai hujan yang beradu dengan bumi, untuk merasakan hangat kulit
manusia lain lewat genggaman. Sederhana memang, sama halnya dengan semua penelusuran pelik
yang biasanya berakhir pada penjelasan sederhana.
Sungguh saya tergoda berkata, kelima hal itu adalah kekasih saya sesungguhnya. Pacar-pacar gelap
tapi tetap, yang dicumbu jiwa saya saat menjalin kasih dengan dunia materi dan sensasi ini. Bahkan
kemacetan di Jalan Pemuda yang sempit tak mampu membendung cinta ini. ©