Di depan toko buku ‘Anugerah”
suasana meriak kemelut, ada copet tertangkap basah. Tukang-tukang
becak memimpin orang banyak menghajarnya ramai-ramai. Si copet jatuh
bangun minta ampun meski hati geli menertawakan kebodohannya sendiri:
hari naas, ia keliru jambret dompet kosong milik kopral sedang preman
kosong milik Kopral setengah preman. Hari naas selalu berarti
tinju-tinju, tendangan sepatu dan cacian tak menyenangkan baginya.
Tapi itu rutin–. Polisi-polisi Pucang tak acuh melihat tontonan
sehari-hari: orang mengeroyok orang sebagai kesenangan. Mendadak
sesosok baju hijau muncul, menyelak di tengah. Si copet diseret
keluar dibawa entah ke mana.
Meski sedikit terhibur dengan kejadian
barusan Tapi bukan itu kejadian yang seharus nya aku dapat kan
disini, Sosok lelaki tua itu yang aku ingin aku temui.Sesosok yang
lelaki yang di dahi nya tergurat jelas tanda dari hasil kejadian
beberapa tahun silam.
“Silahkan mas” pramusaji itu
menghidangkan kopi beserta camilannya dengan pandangan yang sedikit
aneh terhadapku. “thanks” jawabku setelah sesaat dia berpaling
badan meninggalkan mejaku, Tidak tau apa dia masih mendengar atau
tidak. Ini adalah cangkir kopi ke tiga, bibirku beradu dengan bibir
cangkir dengan mata terus menatap keluar seakan tak ingin sekedip pun
aku melewatkan apa yang ada di depanku.
Dengan mata mendelik seperti penari
bali,tenggorokan yang seakan mengering padahal tersedak,bibir yang
belepotan dan bercak coklat pada kemeja biru
kotak-kotakku,cepat-cepat aku berlari sambil menarik tissue dengan
mata masih tetap menatap pada laki-laki tua dengan tanda di dahi
nya,dengan baju kaos putih yang sedikit kebesaran dan banyak
bolong-bolong nya,seperti habis di tembak para serdadu belanda.Seolah
tak ingin kehilangan jejak nya lagi.
Kupandangi pundak yang sedikit condong
ke depan, jika di lihat dari samping, tubuh itu persis membentuk
huruf “C”.Dengan lembut ku tepuk punggung nya dan dengan gerakan
patah-patah seperti jarum detik jam akhirnya dia menoleh, “maaf,
apakah anda bapak Rahardjo?”tapi hanya tatapan bingung yang aku
dapatkan,tatapan seperti mengingat-ingat sesuatu,dan masih
terdiam.”Bapak Rahardjo Gondokusumo?”kali ini pertanyaanku
terdengar lebih tegas dan seperti ingin cepat-cepat mendapat jawaban
“iya”,biar aku cepat menyelesaikan ini,menyelesaikan semua
teka-teki yang ada dalam hidupku,menyelesaikan kumpulan puzzle yang
telah lama ku gantung karena masih mencari potongan yang hilang
,potongan yang mungkin aku dapatkan hari ini.
*****
Lama kami terdiam memandangi cangkir
kopi kami masing-masing dan tanganku masih terus mengaduk-aduk kopi
yang sepertinya tidak ada gunanya lagi.Hanya suara dentingan sendok
yang menyentuh dinding gelas, suara parang yang membanting
tatakan,suara orang yang keluar masuk kedai dengan pintu yang di
banting-banting,pintu itu memang sudah tua.
“Apa yang membawamu kesini?”
“malaikat mana yang berhasil menghancurkan hati karang mu?”
Dengan nada yang gemas garang seakan menghakimi ,dengan tangan yang
masih di kepal,dengan tatapan yang seakan sanggup menelanku
hidup-hidup.Sekarang giliranku yang terkunci,seakan-akan semua benda
dalam radiusku siap-siap menghadang ku jika suatu saat aku lari.
Suara dering handpone ku seakan
menjawab pertanyaan pak har,tiba-tiba tangan yang sudah keriput itu
menghardik dan melemparkan ke lantai ubin.”benda apa itu?”apakah
benda itu pantas menjawab semua pertanyaan saya barusan?”semua
pengunjung kedai menatap kami, tapi yang paling aku takutkan adalah
tatapan mata merah menyala,tatapan pak Har.Kami kembali terdiam cukup
lama.
Suara dentang jam berbunyi,Sepuluh jam
sudah aku berada di kedai ini sejak jam 6 pagi tadi.”Karjo..!!!tolong
ambilkan nasi ke warung sebelah”suara pak har mengejutkanku
diiringi kedatangan seorang pegawai kedai kopi,
“iya pak?”jawab karjo
“tolong ambilkan nasi ke warung
sebelah,satu saja” “karjooo..!!dua menit kamu harus sudah sampai
disini dengan nasinya”teriak pak Har.
“iya paaaaaak”jawab karjo sembari
berlari.
“Siapa sebenarnya pak Har?”sepertinya
orang-orang disini begitu hormat,segan dengan dia dan sampai-sampai
berani melemparkan handphone ku.”Gumamku.
“ini pak, hampir saja habis..tapi
kata bu Kus apa sih yang tidak buat pak Har?hehehe”Seloroh Karjo
sambil menyerahkan bungkusan nasi.
“Sudah-sudah..cepat ambilkan piring
sendoknya..Cepat!!”
Aku masih asik dengan Handphone ku yang
sudah tak berbentuk layaknya handphone,banyak data-data penting,nomor
penting disana,tapi kupikir lebih penting bertemu dengan pak Har.
“Makan ini,kamu belum makan dari pagi
tadi kan?”menyerahkan bungkusan nasi diatas piring.
“Tapi saya belum lapar pak”
“Orang kota seperti kamu apa tahan
lapar?” “wong biasanya makannya tepat waktu” “ayo cepat
makan”
“Kamu bawa baju ganti?, habis ini
kamu ikut bapak,kamu tidur dirumah”
Tiba-tiba aku tersedak “tapi pak,saya
sudah izin tidak masuk kantor hari ini”masa saya harus menginap
disini” “atau apa disini ada angkutan ke kantor saya besok pagi?”
“Sudah,lanjutkan makanmu..tidak sopan
makan sambil bicara”
Sikap pak Har makin membingungkan.
******.
Seperti apa kelanjutan cerita ini aku juga ga tau..i'm tired...i'm GIVE UP....!!!!!!
No comments:
Post a Comment