Friday, 24 October 2014

home

I dont't know what this is. it's when i look at you looking at me.
I feel like home.and yet, it's not home.
I find rest in your eyes, i'd like to linger in there for months. Or maybe years. Idon't know but i like it.

i'm forcing myself to start writing again.
it's been a long time, dear self.

Tuesday, 15 November 2011

sucks story..(i have no idea)


Di depan toko buku ‘Anugerah” suasana meriak kemelut, ada copet tertangkap basah. Tukang-tukang becak memimpin orang banyak menghajarnya ramai-ramai. Si copet jatuh bangun minta ampun meski hati geli menertawakan kebodohannya sendiri: hari naas, ia keliru jambret dompet kosong milik kopral sedang preman kosong milik Kopral setengah preman. Hari naas selalu berarti tinju-tinju, tendangan sepatu dan cacian tak menyenangkan baginya. Tapi itu rutin–. Polisi-polisi Pucang tak acuh melihat tontonan sehari-hari: orang mengeroyok orang sebagai kesenangan. Mendadak sesosok baju hijau muncul, menyelak di tengah. Si copet diseret keluar dibawa entah ke mana.
Meski sedikit terhibur dengan kejadian barusan Tapi bukan itu kejadian yang seharus nya aku dapat kan disini, Sosok lelaki tua itu yang aku ingin aku temui.Sesosok yang lelaki yang di dahi nya tergurat jelas tanda dari hasil kejadian beberapa tahun silam.

“Silahkan mas” pramusaji itu menghidangkan kopi beserta camilannya dengan pandangan yang sedikit aneh terhadapku. “thanks” jawabku setelah sesaat dia berpaling badan meninggalkan mejaku, Tidak tau apa dia masih mendengar atau tidak. Ini adalah cangkir kopi ke tiga, bibirku beradu dengan bibir cangkir dengan mata terus menatap keluar seakan tak ingin sekedip pun aku melewatkan apa yang ada di depanku.

Dengan mata mendelik seperti penari bali,tenggorokan yang seakan mengering padahal tersedak,bibir yang belepotan dan bercak coklat pada kemeja biru kotak-kotakku,cepat-cepat aku berlari sambil menarik tissue dengan mata masih tetap menatap pada laki-laki tua dengan tanda di dahi nya,dengan baju kaos putih yang sedikit kebesaran dan banyak bolong-bolong nya,seperti habis di tembak para serdadu belanda.Seolah tak ingin kehilangan jejak nya lagi.

Kupandangi pundak yang sedikit condong ke depan, jika di lihat dari samping, tubuh itu persis membentuk huruf “C”.Dengan lembut ku tepuk punggung nya dan dengan gerakan patah-patah seperti jarum detik jam akhirnya dia menoleh, “maaf, apakah anda bapak Rahardjo?”tapi hanya tatapan bingung yang aku dapatkan,tatapan seperti mengingat-ingat sesuatu,dan masih terdiam.”Bapak Rahardjo Gondokusumo?”kali ini pertanyaanku terdengar lebih tegas dan seperti ingin cepat-cepat mendapat jawaban “iya”,biar aku cepat menyelesaikan ini,menyelesaikan semua teka-teki yang ada dalam hidupku,menyelesaikan kumpulan puzzle yang telah lama ku gantung karena masih mencari potongan yang hilang ,potongan yang mungkin aku dapatkan hari ini.

*****

Lama kami terdiam memandangi cangkir kopi kami masing-masing dan tanganku masih terus mengaduk-aduk kopi yang sepertinya tidak ada gunanya lagi.Hanya suara dentingan sendok yang menyentuh dinding gelas, suara parang yang membanting tatakan,suara orang yang keluar masuk kedai dengan pintu yang di banting-banting,pintu itu memang sudah tua.
“Apa yang membawamu kesini?” “malaikat mana yang berhasil menghancurkan hati karang mu?” Dengan nada yang gemas garang seakan menghakimi ,dengan tangan yang masih di kepal,dengan tatapan yang seakan sanggup menelanku hidup-hidup.Sekarang giliranku yang terkunci,seakan-akan semua benda dalam radiusku siap-siap menghadang ku jika suatu saat aku lari.

Suara dering handpone ku seakan menjawab pertanyaan pak har,tiba-tiba tangan yang sudah keriput itu menghardik dan melemparkan ke lantai ubin.”benda apa itu?”apakah benda itu pantas menjawab semua pertanyaan saya barusan?”semua pengunjung kedai menatap kami, tapi yang paling aku takutkan adalah tatapan mata merah menyala,tatapan pak Har.Kami kembali terdiam cukup lama.


Suara dentang jam berbunyi,Sepuluh jam sudah aku berada di kedai ini sejak jam 6 pagi tadi.”Karjo..!!!tolong ambilkan nasi ke warung sebelah”suara pak har mengejutkanku diiringi kedatangan seorang pegawai kedai kopi,
“iya pak?”jawab karjo
“tolong ambilkan nasi ke warung sebelah,satu saja” “karjooo..!!dua menit kamu harus sudah sampai disini dengan nasinya”teriak pak Har.
“iya paaaaaak”jawab karjo sembari berlari.
“Siapa sebenarnya pak Har?”sepertinya orang-orang disini begitu hormat,segan dengan dia dan sampai-sampai berani melemparkan handphone ku.”Gumamku.
“ini pak, hampir saja habis..tapi kata bu Kus apa sih yang tidak buat pak Har?hehehe”Seloroh Karjo sambil menyerahkan bungkusan nasi.
“Sudah-sudah..cepat ambilkan piring sendoknya..Cepat!!”
Aku masih asik dengan Handphone ku yang sudah tak berbentuk layaknya handphone,banyak data-data penting,nomor penting disana,tapi kupikir lebih penting bertemu dengan pak Har.
“Makan ini,kamu belum makan dari pagi tadi kan?”menyerahkan bungkusan nasi diatas piring.
“Tapi saya belum lapar pak”
“Orang kota seperti kamu apa tahan lapar?” “wong biasanya makannya tepat waktu” “ayo cepat makan”
“Kamu bawa baju ganti?, habis ini kamu ikut bapak,kamu tidur dirumah”
Tiba-tiba aku tersedak “tapi pak,saya sudah izin tidak masuk kantor hari ini”masa saya harus menginap disini” “atau apa disini ada angkutan ke kantor saya besok pagi?”
“Sudah,lanjutkan makanmu..tidak sopan makan sambil bicara”
Sikap pak Har makin membingungkan.


******.
Seperti apa kelanjutan cerita ini aku juga ga tau..i'm tired...i'm GIVE UP....!!!!!!

jiwa


Merayap pelan di Jalan Pemuda,Surabaya saat jam bubar Kantor merupakan pelatihan observasi
yang baik. Seolah mengamati dunia dalam mikroskop, kecepatan lambat memungkinkan kita
menangkap dengan detail jalanan yang berlubang, trotoar yang hancur, angkot yang mengulur
waktu untuk menelan penumpang sebanyak-banyaknya, pedagang kaki lima yang bersesak
memepet jalan aspal, dan manusia... lautan manusia.
Di balik kerumunan atap rumah, menyembul matahari yang membola sempurna. Oranye. Mata saya
seketika melengak ke atas, sejenak meninggalkan pemandangan Jalan Katamso yang menguji
kesabaran mental. Langit berwarna-warni khas senj
Banyak hal yang membuat kita jatuh cinta pada hida. Campur aduk antara kelabu, biru, ungu,
merah jambu, jingga. Seketika saya bersua dengan sebuah rasa tak bernama. Kemurnian, barangkali
deskripsi paling mendekati.up. Berkali-kali.
Dalam keadaan mabuk as Tak akan terukur dan tertakar
akal mengapa kita jutaan kali mati dan lahir, seolah tak berakhir. Sesuatu dalam mortalitas ini
mengundang kita untuk kembali, dan kembali lagi. Sesuatu dalam dunia materi, jasad, partikel,
mengundang jiwa kita menjemput tubuh untuk ditumpangi dan kembali mengalami.
*** mara, kita akan merasa lahir untuk seseorang yang kita cinta. Dalam
keadaan terinspirasi, kita merasa lahir untuk berkarya dan mencipta. Seorang ibu, dalam puncak
kebahagiaannya, akan merasa lahir untuk melahirkan buah hatinya. Untuk beragam alasan, kita
jatuh hati pada hidup dan kehidupan. Cinta yang barangkali juga datang dan pergi sesuai dengan
situasi yang terus berganti.
Langit senja di jalanan macet ini menggerakkan saya untuk menelusuri cinta yang nyaris tak
terganti, yang meski hidup sedang busuk dan menyebalkan, saya tahu kemurnian ini selalu
menyertai jiwa saya. Untuk hal-hal inilah jiwa saya tergoda untuk kembali, dan kembali. Atau,
minimal, hal-hal ini menjadi jaminan penghiburan jiwa saya selagi menjalani berbagai peran dan
ragam drama yang harus dimainkan dalam hidup. Dan inilah daftar tersebut, dalam susunan acak:
Langit senja. Tertawa. Minum air putih. Suara hujan. Bergandengan tangan.
Dalam kelima hal itu, ada kemurnian yang selalu menjemput jiwa saya untuk sejenak bersuaka.
Riak dan gelombang boleh turun dan pasang, pasangan saya boleh berganti, sehat-sakit-susah-
senang boleh bergilir ambil posisi, tapi ada keindahan yang bergeming saat saya masih diizinkan
untuk menatap langit senja, untuk tertawa lepas, untuk mengalirkan air putih segar lewat
tenggorokan, untuk mendengar derai hujan yang beradu dengan bumi, untuk merasakan hangat kulit
manusia lain lewat genggaman. Sederhana memang, sama halnya dengan semua penelusuran pelik
yang biasanya berakhir pada penjelasan sederhana.
Sungguh saya tergoda berkata, kelima hal itu adalah kekasih saya sesungguhnya. Pacar-pacar gelap
tapi tetap, yang dicumbu jiwa saya saat menjalin kasih dengan dunia materi dan sensasi ini. Bahkan
kemacetan di Jalan Pemuda yang sempit tak mampu membendung cinta ini. ©

Friday, 7 October 2011

JB


Further In

On the main road into the city
when the sun is low.
The traffic thickens, crawls.
It is a sluggish dragon glittering.
I am one of the dragon’s scales.
Suddenly the red sun is
right in the middle of the windscreen
streaming in.
I am transparent
and writing becomes visible
inside me
words in invisible ink
which appear
when the paper is held to the fire!
I know I must get far away
straight through the city and then
further until it is time to go out
and walk far in the forest.
Walk in the footprints of the badger.
It gets dark, difficult to see.
In there on the moss lie stones.
One of the stones is precious.
It can change everything
it can make the darkness shine.
It is a switch for the whole country.
Everything depends on it.
Look at it, touch it…

Monday, 3 October 2011

afraid


Lupa kapan waktu pada saat aku mulai menutup hati,menutup diri.Ya...sejak saat itu aku memang cendrung menutup hati untuk siapa saja yang coba dekat dan berusaha untuk tidak mendekat dengan siapapun apalagi soal hati.Dan saat ini aku juga dekat dengan seseorang, yang aneh nya malah membangkitkan rasa takut yang amat sangat.Perasaan Sayang ,Suka,Cinta, or whatever it is that makes feel good ,comfort , justru tumbuh bersamaan rasa takut yang aku pikir skala perbandingannya sangat tidak adil...Tidak tau kapan bisa keluar dari rasa takut..I wasn't traumatized,but i'm still afraid.And i know this feeling can kill me so softly,agak strange memang :).but I have to endure caterpillars if I want to see butterflies”
but i hate butterflies until the time that I can not specify
oh ya..i talk to my computer,i talk to my self :)

Monday, 26 September 2011

bunga,bapak,"kamu" dan saya..


Aku menunggu setengah jam sampai toko bunga itu buka. Tapi satu jam kemudian aku belum berhasil memilih. Tak ada yang mantap. Penjaga toko itu sampai bosan menyapa dan memujikan dagangannya.
Ketika hampir aku putuskan untuk mencari ke tempat lain, suara seorang Pria menyapa.
”Mencari bunga untuk apa Pak?”
Aku menoleh dan menemukan seorang Pria yang cukup menawan usianya di bawah 25 tahun. Atau mungkin kurang dari itu.
”Bunga untuk ulang tahun.”
”Yang harganya sekitar berapa Pak?”
”Harga tak jadi soal.”
”Bagaimana kalau ini?”
Ia memberi isyarat supaya aku mengikuti.
”Itu?”
Ia menunjuk ke sebuah rangkain bunga tulip dan mawar berwarna pastel. Bunga yang sudah beberapa kali aku lewati dan sama sekali tak menarik perhatianku.
”Itu saya sendiri yang merangkainya.”
Mendadak bunga yang semula tak aku lihat sebelah mata itu berubah. Tolol kalau aku tidak menyambarnya. Langsung aku mengangguk.
”Ya, ini yang aku cari.’
Dia mengangguk senang.
”Mau diantar atau dibawa sendiri?”
”Bawa sendiri saja. Tapi berapa duit?”
Ia kelihatan bimbang.
”Berapa duit.”
”Maaf sebenarnya ini tak dijual. Tapi kalau Bapak mau nanti saya bikinkan lagi.”
”Tidak, aku mau ini.”
”Bagaimana kalau itu?”
Ia menunjuk ke bunga lain.
”Tidak. Ini!”
”Tapi itu tak dijual.”
”Kenapa?”
”Karena dibuat bukan untuk dijual.”
Aku ketawa.
”Sudah, katakan saja berapa duit? Satu juta?” kataku bercanda.
”Dua.”
”Dua apa?”
”Dua juta.”
Aku melongo. Mana mungkin ada bunga berharga dua juta. Dan bunga itu jadi semakin indah. Aku mulai penasaran.
”Jadi, benar-benar tidak dijual?”
”Tidak.”
Aku pandangi dia. Dan dia tersenyum seperti menang. Lalu menunjuk lagi bunga yang lain.
”Bagaimana kalau itu?”
Aku sama sekali tak menoleh. Aku keluarkan dompetku, lalu memeriksa isinya. Kukeluarkan semua. Hanya 900 ratus ribu. Jauh dari harga. Tapi aku taruh di atas meja berikut uang receh logam.
Dia tercengang.
”Bapak mau beli?”
”Ya. Tapi aku hanya punya 900 ribu. Itu juga berarti aku harus jalan kaki pulang. Aku tidak mengerti bunga. Tapi aku menghargai perasaanmu yang merangkainya. Aku merasakan kelembutannya, tapi juga ketegasan dan kegairahan dalam karyamu itu. Aku mau beli bunga kamu yang tak dijual ini.”
Dia berpikir. Setelah itu menyerah.
”Ya, sudah, Bapak ambil saja. Bapak perlu duit berapa untuk pulang?”
Aku terpesona tak percaya.
”Bapak perlu berapa duit untuk ongkos pulang?”
”Duapuluh ribu cukup.”
”Rumah Bapak di mana?”
”Rungkut.”
”Wiyung kan jauh?”
”Memang, tapi dilewati angkot.”"beberapa kali nyambung lah"
”Bapak mau naik angkot bawa bunga yang aku rangkai?”
”Habis, naik apa lagi?”
”Tapi angkot?”
”Apa salahnya. Bunga yang sebagus itu tidak akan berubah meskipun naik gerobak.”
”Bukan begitu.”
”O, kamu tersinggung bunga kamu dibawa angkot? Kalau begitu aku jalan kaki saja.”
”Bapak mau jalan kaki bawa bunga?”
”Ya, hitung-hitung olahraga.”
Dia menatap tajam.
”Bapak bisa ditabrak motor. Bapak ambil saja uang Bapak 150 untuk ongkos taksi.”
Aku tercengang.
”Kurang?”
“Tidak. Itu bukan hanya cukup untuk naik Blue Bird, tapi juga cukup untuk makan IBC.”
Dia tersenyum. Cakep sekali.
”Silakan. Bapak perlu kartu ucapan selamat di bunga?”
”Tidak.”
Dia berpikir.
”Jadi, bukan untuk diberikan kepada seseorang? Bunga ini saya rangkai untuk diberikan pada seseorang.”
”Memang. Untuk diberikan pada seseorang.”
”Yang dicintai mestinya.”
”Ya. Jelas!”
”Sebaiknya, Bapak tambahkan ucapannya. Bunga ini saya rangkai untuk diantar dengan ucapan. Diambil dari puisi siapa begitu yang terkenal. Misalnya Kahlil Gibran.”
Aku terpesona lalu mengangguk.
”Setuju. Tapi tolong dicarikan puisinya dan sekaligus dituliskan.”
Ia cepat ke belakang mejanya mengambil kartu.
”Sebaiknya Bapak saja yang menulis.”
”Tidak. Kamu.”
Ia tersenyum lagi mungkin merasa lucu. Lalu menyodorkan sebuah buku kumpulan sajak. Aku menolak.
”Kamu saja yang memilih.”
”Tapi, saya tidak tahu yang mana untuk siapa dulu.”
”Pokoknya yang bagus. Yang positif.”
”Cinta, persahabatan, atau sayang?”
”Semuanya.”
Ia tertawa. Lalu menulis. Tampaknya ia sudah hapal di luar kepala isi buku itu. Ketika ia menunjukkan tulisannya, aku terhenyak. Itu bukan sajak Gibran, tapi kalimat yang ditarik dari sajak Di Beranda Itu Angin Tak Berembus Lagi karya Goenawan Mohamad:
”Bersiap kecewa, bersedih tanpa kata-kata.”
Aku terharu. Pantas Nelson Mandela mengaku mendapat inspirasi untuk bertahan selama 26 tahun di penjara Robben karena puisi.
”Bagus?”
Aku tiba-tiba tak sanggup menahan haru. Air mataku menetes dengan sangat memalukan. Cepat-cepat kuhapus.
”Saya juga sering menangis membacanya, Pak.”
”Ya?”
”Ya. Tapi sebaiknya Bapak tandatangani sekarang, nanti lupa.”
Aku menggeleng. Aku kembalikan kartu itu kepadanya.
”Kamu saja yang tanda tangan.”
”Kenapa saya?”
”Kan kamu yang tadi menulis.”
”Tapi itu untuk Bapak.”
”Ya memang.”
Ia bingung.
”Kamu tidak mau menandatangani apa yang sudah kamu tulis?”
”Tapi, saya menulis itu untuk Bapak.”
”Makanya!”
Ia kembali bingung.
”Kamu tak mau mengucapkan selamat ulang tahun buat aku?”
Dia bengong.
”Aku memang tak pantas diberi ucapan selamat.”
”Jadi, bunga ini untuk Bapak?”
”Ya.”
”Bapak membelinya untuk Bapak sendiri?”
”Ya. Apa salahnya?”
”Bapak yang ulang tahun?”
”Ya.”
Dia menatapku tak percaya.
”Kenapa?”
”Mestinya mereka yang yang mengirimkan bunga untuk Bapak.”
”Mereka siapa?”
”Ya, keluarga Bapak. Teman-teman Bapak. Anak Bapak, istri Bapak, atau pacar Bapak…”
”Mereka terlalu sibuk.”
”Mengucapkan selamat tidak pernah mengganggu kesibukan.”
”Tapi itu kenyataannya. Jadi aku beli bunga untuk diriku sendiri dan ucapkan selamat untuk diriku sendiri karena kau juga tidak mau!”
Aku ambil uangku dan letakkan lebih dekat ke jangkauannya. Lalu aku ambil bunga itu.
”Terima kasih. Baru sekali ini aku ketemu bunga yang harganya 900 ribu.”
Aku tersenyum untuk meyakinkan dia bahwa aku tak marah. Percakapan kami tadi terlalu indah. Bunga itu hanya bonusnya. Aku sudah mendapat hadiah ulang tahun yang lain dari yang lain.
Tapi sebelum aku keluar pintu toko, dia menyusul.
”Ini uang Bapak,” katanya memasukkan uang ke kantung bajuku sambil meraih bunga dari tanganku, ”Bapak simpan saja.”
”Kenapa? Kan sudah aku beli?”
Aku raih bunga itu lagi, tapi dia mengelak.
”Tidak perlu dibeli. Ini hadiah dariku untuk Bapak. Dan aku mau ngantar Bapak pulang. Tunjukkan saja jalannya. Itu mobilku.”
Dia menunjuk ke sebuah Honda Civic hitam yang di depan toko.
”Aku pemilik toko ini,mari ikut dengan saya kita rayakan ulang tahun kamu”
Aku terkejut. Sejak itu hidup kami Dimulai